JENIS KONJUNGSI DALAM BAHASA GAYO I – Konjungsi Koordinatif (Bag 2)

Jenis konjungsi dalam bahasa Gayo meliputi konjungsi koordinatif, konjungsi subordinatif, dan konjungsi kohesif.

I.    Konjungsi Koordinatif

Salah satu ciri konjungsi koordinatif adalah kemampuannya untuk menghubungkan dua buah kata atau lebih untuk membentuk frasa koordinatif. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sibarani. Lebih lanjut, Sibarani menyebutkan bahwa kata, biasanya berupa kata, yang dihubungkannya harus memiliki persamaan atau kesetaraan dalam frasa koordinatif. Persamaan frasa tersebut pada umumnya berupa kategori dan fungsi sintaksis. Dengan kata lain, apabila satuan sebelum konjungsi berkelas kata nomina, misalnya, kata sesudah konjungsi juga berkelas kata nomina; apabila kata setelah konjungsi merupakan predikat, satuan setelah konjungsi juga berupa predikat.

Dari ketigabelas konjungsi koordinatif di atas, konjungsi yang dapat digunakan dalam tataran frasa koordinatif untuk menghubungkan antarkategori atau antarfungsi adalah konjungsi atau, ataupe, nan, dan taorom. Keempat konjungsi ini selain dapat digunakan dalam tataran frasa koordinatif juga dapat digunakan dalam tataran klausa koordinatif untuk menghubungkan antarklausa.

Hal ini dapat dilihat dengan jelas dalam contoh berikut:

  • Mustapa atau reje ilang ulak ku Tuhen iyo mane.
    ‘Mustapa atau reje  Ilang meninggal Dunia kemarin sore.’
  • Sekiles ke ipanang  korek siam ataupe korek kampung male des janggotte.
    ‘Sekilas kalau dipandang ayam siam atau pun ayam kampung hampir sama bulunya.’
  • Anak beru ni pak camat belangi nan jeroh perangewe.
    ‘Anak gadis pak camat cantik dan baik perangainya.’
  • Jema tue oya lues di kekiree nanpe le pembetehne.
    ‘Orang tua itu bijaksana dan lagi banyak ilmuya.’

Berbeda dengan keempat konjungsi tersebut, ataupe, nanpe, renyel, entanye, lebeh-lebeh, padahel, tan, tanne, dan ketanpe  hanya dapat digunakan untuk menghubungkan antarklausa sehingga terbentuklah klausa koordinatif. Dengan kata lain, kesembilan konjungsi tersebut menghubungkan dua kata atau lebih yang memiliki tingkat persamaan atau kesetaraan fungsi sintaksis. Yang dimaksud dengan fungsi sintaksis dalam konteks ini adalah hubungan jabatan antarunsur dalam satuan gramatis yang lebih luas, misalnya nomina yang berfungsi sebagai subjek diikuti oleh verba yang berfungsi sebagai predikat atau sebaliknya, verba yang berfungsi sebagai predikat diikuti oleh nomina yang berfungsi sebagai subjek.

Selain itu, dalam klausa fungsi sintaksis inti adalah subjek dan predikat, sedangkan fungsi-fungsi sintaksis lain bersifat manasuka. Namun, subjek sering dielipsis apabila fungsi itu dapat diramalkan dari konteks kalimat atau klausa lainnya. Dengan demikian, kesetaraan fungsi sintaksis yang dimaksud disini adalah bahwa setiap klausa yang dihubungkan oleh konjungsi koordinatif sekurang-kurangnya memiliki P dan S. Hal ini sesuai dengan pernyataan Greenberg dalam Comrie.

Peran konjungsi ataupe, nanpe, renyel, entanye, lebeh-lebeh, padahel, tan, tanne, dan ketanpe  dalam menghubungkan dua kata atau lebih dapat dilihat dalam kalimat-klimat berikut:

  • Abdi seni tengah munyelesen pendedeken S-2, renyel we berencana mulanjuten S-3 ku Amerika.
    ‘Abdi saat ini tengah menyelesaikan pendidikan S2, kemudian dia berencana  melanjutkan S3 ke Amerika.’
  • Kami  si munerah kejadien tabrak kelamma, nye  Alif le si mulaporne ku pelisi.
    ‘Kami  yang melihat kejadien tabrakan malam itu, lalu Alif lah yang melaporkan ke polisi.’
  • Kena motor kijang si selama ini i pakeke kin mekat nge murusak, entanye Amat seni mubeli motor ayu.
    ’Karena mobil kijang yang selama ini dipakainya untuk berjualan telah    rusak,  lantas Amat sekarang membeli mobil baru.
  • Petani ton ni murugi kena heme tikos, lebeh-lebeh itamah orom naru ni kemaro.
    ‘Para petani tahun ini mengalami kerugian karena serangan hama tikus, lebih-lebih ditambah dengan kemarau panjang.’
  • Anan Siti nge muloi saket-saketen, padahel  jadwal keberangkatan hajie  ton arapo ilen.
    ‘Nek Siti sudah mulai sakit-sakitan,  padahal jadwal keberangkatan  hajinya  masih tahun depan.’
  • Keluarga kol ku mehne minah ku Takengen, tan aku teilen arae i Jakarta munyelesen kuliahku.
    ‘Keluarga besarku semuanya pindah ke Takengon, sedang saya masih berada di Jakarta menyelesaikan kuliah saya.’
  • Vani kuliah i Fakultas Kedokteren UISU i Medan, tanne Vina sedere kembare kuliah i STPDN  Jatinangor.
    ‘Vani kuliah di fakultas Kedokteran UISU  di Medan, sedangkan vina saudara kembarnya kuliah di STPDN Jatinangor’.
  • Bupati morom rombongen munentong korban musiut i Toweren, sire munosah bantuen bahan pangan taorom uak-uaken.
    ‘Bupati bersama rombongan mengunjungi korban kebakaran di Toweren, sembari memberikan  bantuan bahan pangan serta obat-obatan.’
  • Ar Moese senimen si terbaik i Tekengen, karyae dor i galakni jema sepanjang waktu, ketanpe bakat senie gere ara munoron ku anakke.
    ‘Ar  Moese seniman terbaik di takengon, karya-karyanya selalu disukai   sepanjang waktu, tetapi bakat seninya tidak ada menurun pada anaknya.’

Karena berfungsi menghubungkan dua kata atau lebih yang memiliki tingkat persamaan atau kesetaraan fungsi sintaksis, konjungsi koordinatif pada umumnya tidak memiliki derajat kebebasan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Effendi. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Sibarani yang  menyatakan bahwa klausa koordinatif mensyaratkan bahwa klausa itu memiliki pasangan dengan klausa yang lain dan kedua-duanya memiliki persamaan fungsi sintaksis. Lebih lanjut, Sibarani menyebutkan bahwa klausa koodinatif mampu berdiri sendiri sebagai kalimat tunggal apabila disertai dengan intonasi akhir karena klausa itu memiliki kebebasan, tidak bergantung kepada klausa yang lain, atau tidak merupakan bagian dari klausa yang lain. Pernyataan Sibarani ini tampak sesuai dengan pernyataan Quirk, dkk.

Berdasarkan pernyataan tersebut, setelah dilakukan analisis terhadap konjungsi ataupe, nanpe, renyel, entanye, lebeh-lebeh, padahel, tan, tanne, dan ketanpe, konjungsi-konjungsi ini ternyata tidak memiliki derajat kebebasan. Artinya, posisi konjungsi  tersebut tidak dapat dipindahkan atau tetap. Apabila dipindahkan posisinya, konjungsi-konjungsi tersebut akan menghasilkan konstruksi kalimat yang tidak berterima (unacceptable construction). Dengan demikian, dalam bahasa Gayo tidak ada kalimat (13a) seperti berikut ini:

13a.  Ketanpe  we gere mera minum kopi, Pak Irham pengusaha kopi tekaya i Takengon,
‘Tetapi dia tidak suka minum kopi, Pak Irham pengusaha kopi terkaya di Takengon,’

Hal yang sama seperti kalimat (13a) ini juga berlaku dalam kalimat (5) s.d. (13).

Selain dapat digunakan dalam tataran frasa koordinatif dan klausa koordinatif, konjungsi koordinatif dalam bahasa Gayo juga dapat menghubungkan suatu kalimat majemuk bertingkat yang lain, kalimat majemuk dengan klausa bebas, dan klausa bebas dengan kalimat majemuk bertingkat. Gabungan dari itu akan menghasilkan kalimat majemuk campuran, yaitu kalimat majemuk yang terdiri atas sekurang-kurangnya dua klausa bebas dan sekurang-kurangnya satu klausa terikat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sugono. Kasus seperti ini terlihat pada kalimat (7)-(9). Pada kalimat (7)-(9) di atas, kalimat tersebut dibentuk dengan menghubungkan klausa bebas dengan kalimat majemuk bertingkat yang terdiri atas tiga klausa, yaitu dua klausa bebas dan satu klausa terikat.

 

Vera Hastuti

65

Posted on 15 Juli 2013, in Bahasa, Tata Bahasa, Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: