BENTUK ADJEKTIVA DALAM BAHASA GAYO (BAG II-cd)

BENTUK ADJEKTIVA DALAM BAHASA GAYO (BAG II-cd)

II.  Adjektiva Turunan (Polimorfemis)
Adjektiva turunan (polimorfemis) adalah adjektiva yang terdiri atas lebih dari satu morfem. Dalam bahasa Gayo adjektiva turunan dibentuk dengan tiga cara, yaitu: pengimbuhan (afiksasi), pengulangan, dan pemajemukan.

a.  Adjektiva Berafiks
b.  Adjektiva Bentuk Berulang

c.  Adjektiva Majemuk
Pemajemukan adjektiva bahasa Gayo dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni pemajemukan yang berasal dari penggabungan morfem bebas dan morfem bebas serta penggabungan morfem bebas dan morfem terikat.

1.  Adjektiva Majemuk dari Gabungan Morfem Bebas dan Morfem Bebas
Adjektiva majemuk yang berasal dari morfem bebas dan morfem bebas dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni adjektiva majemuk bersifat idiomatis dan yang tidak bersifat idiomatis. Adjektiva majemuk bersifat idiomatis merupakan gabungan morfem yang makna keseluruhannya tidak dapat dijabarkan makna unsurnya.

Adjektiva majemuk yang bersifat idiomatis dalam bahasa Gayo contohnya:

Kol ate  (besar hati) >>sayang
Luding serlah  (gerimis sore panas) >>merajuk
Reduk gantong  (mendung gantung) >>mata sayu
Porak rayoh  (panas darah) >>cepat marah
Langak lungkep  (terlentang tertelungkup) >>berusaha dengan sungguh
Uet konol  (bangun duduk) >>gelisah

Pemakaian dalam  kalimat:

  • Amaku langak lungkep bebuet kin mubiayai kuliahku (ayahku berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membiayai kuliahku)

>>Adjektiva majemuk yang tidak bersifat idiomatis dalam bahasa Gayo contohnya:

Tue mude  (tua muda)
Kol kucak  (besar kecil)
Mampat belangi  (cantik jelita)
Item manes  (hitam manis)

Pemakaian dalam  kalimat:

  • Tue mude bewenne i mai mangan wan acara turun mani anakke (tua muda semuanya di bawa makan dalam acara turun mandi anaknya)
  • Ananku kolette poteh tapi ine item manes (nenekku kulitnya putih tetapi ibu hitam manis)

2.  Adjektiva Majemuk dari Gabungan Morfem Bebas dan Morfem Terikat
Contohnya:

Tue rengkung  (tua renta)
Kucak kucil  (kecil mungil)

Dalam contoh diatas morfem rengkung dan kucil merupakan morfem terikat yang tidak dapat berdiri sendiri.
Pemakaian dalam  kalimat:

  • Akaku kucak kucil we jemae (kakakku kecil mungil cuma orangnya)

d.  Adjektiva Dengan Kelas Kata Lain
Adjektiva turunan dari kelas kata lain disebut adjektiva derivasional, seperti nomina (kata benda) atau verba yang penurunan bentuknya dilakukan dengan menambahkan afiks pada kata dasar. Dalam bahasa Gayo afiks yang membentuk adjektiva derivasional adalah sebagai berikut:

1.  Adjektiva Deverbal
>>Akhiran (sufiks) -i
Adjektiva bentukan yang dihasilkan dari pengimbuhan sufiks -i yang dibubuhkan pada adjektiva mengandung makna ‘melakukan sesuatu’. Contohnya:

Pesami  (panaskan)
Itemi  (hitamkan)
Kucaki  (kecilkan)
Koli  (besarkan)
Bersehi  (bersihkan)
Alosi  (haluskan)
Engkepi  (penuhkan)

Pemakaian dalam  kalimat:

  • Enti lupen bersehi umah ni kahe (jangan lupa bersihkan rumah ini nanti)

>>Konfiks be – en
Contohnya:

Bemerkenen  (bermalasan)
Berapen  (berdekatan)
Beroroten  (berurutan)

Pemakaian dalam  kalimat:

  • Umahku orom umahe berapen i Takengen (rumahku dengan rumahnya berdekatan di Takengon)
  • Setiep lo mingu anak kos bemerkenen uet soboh (setiap hari minggu anak kos bermalasan bangun pagi)

2.  Adjektiva Denominal
>>Adjektiva bentuk pe-
Adjektiva bentukan yang dihasilkan dari pengimbuhan prefiks pe- yang dibubuhkan pada adjektiva memiliki pengertian orang yang mempunyai sifat seperti yang disebut pada kata dasar. Contohnya:

Pecogah  (pembohong)
Pemerke  (pemalas)
Pekemel  (pemalu)
Pebenges  (pemarah)
Pebeneng  (pendiam)
Pecemburu  (pecemburu)
Pelupen  (pelupa)
Peramah  (peramah)
Penyeber  (penyabar)

Pemakaian dalam  kalimat:

  • Engingku so pekemel pedi jemae (adikku itu pemalu sekali orangnya)
  • We mujadi pelupen ntap musentor orom rering seton si lalu (dia menjadi pelupa karena terbentur tembok setahun yang lalu)
  • Lebeh pebeneng ineku dibak encuku (lebih pendiam ibuku daripada bibikku

>>Adjektiva bentuk ke – en
Adjektiva bentukan yang dihasilkan dari penggabungan awalan ke- dan akhiran -en yang mengikat adjektiva mempunyai makna ‘dalam keadaan’. Contohnya:

Kebenginen  (dalam keadaan dingin)
Keporaken  (dalam keadaan panas)
Kekemelen  (dalam keadaan malu)

Pemakaian dalam  kalimat:

  • Ani kebenginen ntap lememtu kona uren (ani kedinginan karena lama sekali terkena hujan)

>>Adjektiva bentuk ke – en dengan reduplikasi
Contohnya:

Kekanaken  (kekanak-kanakan)

Pemakaian dalam  kalimat:

  • Bierpe we nge beru kol, tapi sifete lagu kekanaken len (biarpun dia sudah gadis, tetapi sifatnya masih seperti kekanak-kanakan)

 

Vera Hastuti

9

About these ads

Posted on 8 Juni 2013, in Bahasa, Tata Bahasa, Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: